Monday, October 11, 2010

KEMEWAHAN DUNIA ADALAH KEKURANGAN AKHIRAT


Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah kesediaannya untuk bertanggungjawab di hadapan Allah Ta'ala. Yang harus dipertanggungjawabkan adalah semua kenikmatan yang telah didapat dan semua perbuatan yang telah dikerjakan. Baik halal maupun yang haram dan yang baik maupun yang buruk, semua akan ditanya dan diteliti satu persatu oleh Allah SWT. Jadi benar bahwa hisab adalah masa yang melelahkan karena didalamnya akan diteliti semua perkara. Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ إِلَيْـنَا إِيَابَهُمْ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْـنَا حِسَابَهُمْ.

Artinya: "Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya Kami-lah yang menghisab mereka" (Q.S. Al-Ghasyiah: 25-26).
Salah satu hisab yang berat adalah ketika kita ditanya tentang nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala. Nikmat yang telah kita kecap saja sudah tidak terhitung jumlahnya dan tidak terukur berapa besarnya. Allah Ta'ala akan menginvestigasi setiap nikmat, yakni antara lain akan ditanya: dari mana didapatkan?; dengan cara apa mendapatkannya?; telahkah ia syukuri?; dan ia gunakan untuk apa nikmat tersebut?.
Allah Ta'ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ.

Artinya: "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu dapatkan di dunia ini)" (Q.S. at-Takasur: 8).
Berkenaan dengan ayat ini diceritakan suatu riwayat dari Abu Hurairah ra., bahwa, "Pada tengah hari di Madinah. Karena panas yang menyengat, semua makhluk berlindung di tempat-tempat yang teduh. Penduduk Madinah memilih tidur siang. Jalan-jalan lengang. Tidak ada yang bergerak, kecuali debu-debu dan daun-daun yang diterbangkan angin. Tiba-tiba mincul seorang lelaki, terhuyung-huyung menuju masjid. Setelah itu datang laki-laki lain.
"Apa yang menyebabkan engkau keluar pada jam seperti ini, Hai Abu bakar," tanya Umar, laki-laki yang datang belakangan. "Aku keluar karena desakan lapar," kata Abu Bakar. Umar berkata ,"Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Akupun terpaksa keluar karena lapar".

Ketika keduanya duduk di masjid, Rasulullah SAW datang. "Mengapa kalian keluar pada jam seperti ini?" tanya beliau. "Rasa lapar yang melilit perut kami ya Rasul Allah", keduanya menjawab. Rasulullah SAW berkata: "Demi yang mengutusku dengan kebenaran, Akupun keluar dengan sebab yang sama. Bangunlah mari kita pergi kerumah Abu Ayyub Al-Anshari".

Abu Ayyub merasa senang sekali atas kedatangan tamu-tamu mulia tersebut. Untuk menjamu mereka, Abu Ayyub menyediakan kurma yang bagus-bagus dan menyembelih kambing yang masih muda. Setengahnya dimasak dan setengahnya lagi dipanggang. Ketika hidangan disajikan di hadapan Rasulullah SAW, beliau berkata, "Wahai Abu Ayyub berikan ini (sebagian) kepada Fatimah. Sudah beberapa hari ia tidak memperoleh makanan seperti ini". Abu Ayyub segera menghantarkan makanan itu ke rumah Fatimah.

Nabi SAW dan kedua sahabatnya makan hingga cukup. Seusai makan, Nabi SAW menyebut dan merinci semua makanan yang dihidangkan, antara lain: roti, daging, kurma matang, kurma segar, kurma muda dan minuman. Sedangkan air matanya segera tergenang dan jatuh berlinang. Beliau bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيْمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Artinya: "Demi yang diriku ada di dalam genggamannya-Nya, inilah nikmat yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah nanti pada hari kiamat" (Shahîh Muslim, no. 2038).

Kita semua pasti di hisab dan masa hisab ini adalah saat yang melelahkan. Oleh karena itu kita berharap agar mendapatkan hisab yang ringan. Untuk itu kita harus pandai mensyukuri nikmat dan menggunakan nikmat tersebut untuk semata-mata taat kepada Allah Ta'ala. Menggunakan nikmat untuk yang bermanfaat dan untuk senantiasa beramal shaleh. Ketahuilah bahwa orang yang diampuni dan bakal selamat adalah orang yang hisabnya diringankan. Perhatikanlah dan renungkan hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ  يَقُوْلُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ: "اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِىْ حِسَابًا يَسِيْرًا", فَلَمَّاانْصَرَفَ قُلْتُ: يَانَبِيَّ اللهِ! مَاالْحِسَابُ الْيَسِيْرُ؟, قَالَ: اَنْ يُّنْظَرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ, إِنَّهُ مَنْ نُوْقِشُ الْحِسَابَ يَوْمِئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ.

Artinya: Dari 'Aisyah rah., ia berkata: "saya mendengar Rasulullah SAW dalam salah satu shalatnya membaca: "Ya Allah hisablah saya dengan hisab yang ringan". Ketika beliau menyelesaikan shalatnya, saya bertanya, "Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang ringan?", Beliau menjawab, "Yaitu seseorang yang ditampakkan buku catatan amalnya lalu dimaafkan, wahai 'Aisyah!, sesungguhnya siapa yang dipersoalkan hisabnya (dengan teliti) pada hari kiamat, maka celakalah ia"(Musnad Imam Ahmad).

No comments:

Post a Comment

Hantar Aduan Muslim Disini

http://ho.lazada.com.my/SHEKdp

Popular Posts